Review Film Arisan! (sutradara Nia Dinata)


Saya tak tau banyak soal kehidupan keluarga yang tinggal di kota metropolitan, Jakarta. Paling banyak tau ya paling dari film ataupun sinetron. Sehingga ketika menonton film ini yaa saya tidak tau apa hal-hal yang terjadi di film ini sesungguhnya benar-benar ada di kehidupan nyata, atau hanya dunia film dan sinetron yang dilanggengkan sejak dulu.

Sebagai penonton yang lahir di desa, besar dan tinggal di desa, tapi banyak mengonsumsi produk dari media yang berpusat di kota (musik, video, film, sinetron, dll), hal yang saya dapat ketika menonton Arisan! ialah sekumpulan karakter stereotip dengan kehidupan sesuai stereotip-nya yang berkembang di masyarakat.

Yang saya maksud di atas ialah hal-hal seperti: cowok ganteng, suka gym, badan berotot, kaya=gay. atau wanita karir=mandul. atau orang batak=ngomongnya khas banget, trus kuliah hukuk. atau perempuan muda, cantik, kaya=nikah sama om-om yg jauh lebih tua. atau istri-istri orang kaya=jadi ibu rumah tangga, suka arisan, sosialita, modis, kadang norak, dan masih banyak lah pokoknya.

Saya sadar, saya menonton film ini tahun 2019, yaitu 16 tahun setelah film ini dirilis. Saya pun ngga tau sejak kapan stereotip-stereotip itu muncul dan menjadi klise pada akhirnya. Mungkin saja, dunia di dalam film ini benar-benar terjadi pada zaman itu (bahkan sampai sekarang), lalu diangkat ke dalam film ini, lalu film-film lain dan juga sinetron mengangkat hal yang serupa, sehingga ikut melanggengkan stereotip itu.

Jujur saja, saya banyak menonton sinetron pada masa sd hingga smp. Saya ngga bilang film ini sejelek sinetron, karena 2003 sudah lama sekali, jadi bisa dibilang film ini ikut andil dalam membangun karakter-karakter stereotip di media-media lain hingga sekarang.

-------------------------------------------------

Tulisan di atas tadi ialah pandangan saya ketika menonton film dengan budaya tahun 2003 dengan sudut pandang orang yang besar di desa dengan konsumsi sinetron, di tahun 2019.

Terlepas dari segala stereotip itu, bayangkan saya sebagai orang yang besar di kota dan menonton film ini. Saya yakin bakal sangat relate sama kehidupan saya, kehidupan ayah dan ibu saya. Dan... bukan hanya perasaan relate yang diharapkan ibu Nia dari penonton tentunya, lebih dari itu yaitu perasaan tertampar keras karena kritiknya yang begitu jujur menelanjangi hidup orang-orang kota.

Ironi, satu kata yang sangat menggambarkan dunia di film ini. Semua karakternya berusaha untuk tampil sempurna di depan karakter lainnya, padahal di belakangnya, ya.... Lebih parahnya lagi, karakter-karakternya udah tau kalau dirinya itu cuma "berpura-pura", dan dia tau kalau temannya juga sedang "berpura-pura". Tapi tetap semuanya saling menutupi itu, dan membangun hubungan yang penuh "kepalsuan" itu.

Saya bayangin waktu jamannya film ini di bioskop, orang-orang sosialita itu kan pada nonton film ini di bioskop tuh. Gimana yaa reaksi mereka, kan lucu banget gitu kalau mereka tertawa terbahak-bahak gitu nonton film ini, dan lucunya lagi kalau mereka engga sadar kalau mereka lagi ngeliat dirinya di layar, engga cuma ngeliat tapi ngetawain. Kan lucu.

-------------------------------------------------

Salah satu film yang patut diperhitungkan di industri, saya lupa apa aja prestasi film ini tapi yang pasti bisa dibilang film yang ada di barisan atas dalam sejarah film indonesia.

Saya sangat apresiasi film-film pada jaman itu yang bener-bener niat. Kalau sekarang rasanya jarang banget film Indonesia yang durasinya sampai 2 jam dan padet, apalagi film drama. Skenarionya bener-bener ditulis dengan baik, karakter-karakter serta latar belakangnya bisa kebaca dan menarik. Joko Anwar yang ikut nulis, memang senang bermain di tema-tema seperti ini yaa, keliatan juga di film terbaru yang ditulisnya: Orang Kaya Baru.

Opening creditnya menarik, dan sangat niat. Saya belum ngeliat film-film Indonesia sekarang seniat ini. Saya lupa film apa lagi yang opening creditnya niat gini, intinya adalah film-film Indonesia lama cenderung lebih niat dan kreatif meskipun dalam hal kecil dan keliatannya remeh.

Lalu, yang paling saya suka ialah pada jaman itu filmmaker udah punya kesadaran dan kritis soal film-film yang laris di pasaran kalau ngga film horror, ya film komedi. Terutama banyak film-film horror yang terlalu buruk untuk disebut sebagai film. Rupanya keresahan semacam ini sudah ada sejak dulu, bahkan berani diutarakan melalui film.

-------------------------------------------------

Saya rasa itu saja untuk tulisan ini, besok rencana nonton sequelnya semoga lebih dari ini.

Nonton sendiri di kosan, film ke-3 dalam rangka memperingati bulan film nasional, jadi sebulan ke depan mau nonton film Indonesia secara legal di: 
#Netflix

Komentar